Pagi | Tips | Informasi | Internet

Sabtu, 15 April 2017

Sepak Bola, Antara Olahraga dan Rasa Suka

Hari ini liga sepak bola tertinggi di Indonesia, Liga 1, rencananya mulai digulirkan. Meski masih terjadi beberapa perdebatan, tapi tetap saja layak dinantikan kiprah 18 klub Liga 1 beserta para pemain asing "kelas dunia" seperti Carlton Cole maupun Michael Essien. Apalagi sejak lepas dari sanksi FIFA, baru kali ini akan bergulir liga resmi dari PSSI, setelah sebelumnya hanya ada beberapa turnamen saja. Belum lagi liga-liga di Eropa bakal segera usia, tentu hadirnya tayangan liga lokal bisa memuaskan para pecinta bola di Indonesia, termasuk saya barangkali.

Sepak bola merupakan olahraga kaum lelaki, demikian kata sebagian orang. Bebas saja orang berpendapat, meskipun pendapat itu tidak sepenuhnya benar, karena nyatanya cabang olahraga ini mempunyai penggemar laki-laki dan perempuan serta dimainkan oleh laki-laki dan perempuan. Memang penggemarnya di dominasi kaum pria, tapi lihat saja di televisi, banyak juga kaum wanita yang datang ke stadion untuk menyaksikan tim kesayangannya berlaga. Ini sudah menjadi bukti sah kalau sepak bola bukan monopoli kaum laki-laki.
Bermain sepak bola
Sudah, sudah, tidak perlu diperdebatkan. Saya sendiri adalah penggemar olahraga yang berisi sebelas pemain setiap timnya ini. Saya hanya sebagai penikmat, karena nyatanya saya tidak pandai bermain sepak bola, hanya sebatas bisa. Apakah ini masalah? Tidak, saya yakin saya tidak sendiri, tapi ini adalah hal yang wajar menurut saya, karena tidak ada relevansinya dan tidak ada keharusan untuk itu.

Saya mulai suka sepak bola sejak duduk di bangku SMP, berawal dari seorang teman yang membawa tabloid olahraga, lama-lama menjadi tertarik dan suka. Cerita lucu dan tidak mengenakkan hampir selalu saya alami ketika ada pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan (Penjaskes), dan ada permainan sepak bola ada dalam prakteknya. Apa pasal? Karena biasanya untuk membagi menjadi dua tim ada dua orang yang bergantian memilih siapa yang akan menjadi tim mereka, dan saya selalu menjadi pilihan terakhir alias pelengkap.

Begitulah, tidak ada perbandingan lurus, tapi bukan masalah. Saya sering baca berita, baik di media cetak, online, atau di layar televisi mengenai fanatisme suporter klub sepak bola yang kadang diluar logika. Jangankan harta, nyawa pun kadang tidak dihiraukan demi mendukung klub kesayangan mereka. Bayangkan saja, ada teman saya seorang pendukung PSIS Semarang yang rela berjauh-jauh mendukung saat bertanding di luar Pulau Jawa. Berapa uang yang harus dia keluarkan? Jutaan, hanya untuk mendukung tim yang bertanding selama sembilan puluh menit.

Masih dari pendukung klub yang sama, tahun 1997 kalau tidak salah ingat, menjelang pertandingan final Liga Indonesia antara Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang, ada seorang suporter PSIS yang meninggal dunia, kecelakaan dalam perjalanan saat ingin mendukung klub bertanding di Jakarta. Itu hanya contoh kecil, masih banyak yang lebih “edan” dari contoh yang saya berikan tersebut. Apalagi di luar negeri, dimana sepak bola sudah begitu mengakar, saat mendukung klub mereka tak tanggung-tanggung.

Begitulah, terkadang ada banyak hal yang tidak masuk akal saat orang suka sesuatu. Beruntung saya tidak begitu fanatik mendukung sebuah klub, saya hanya suka dan menikmati pertandingan dan serba serbinya. Kadang terbayang juga bagaimana rasanya menjadi pemain sepak bola profesional di luar negeri, dimana gaji seminggu ada yang sampai milyaran. Kalau dapat gaji segitu mungkin membeli sepatu adidas terbaru tak perlu menabung berlama-lama, tinggal nunggu gaji cair langsung beli.

Apapun itu, olahraga tetaplah olahraga. Satu hal yang saya masih penasaran sampai saat ini, karena meskipun saya penggemar sepak bola tapi belum pernah sekalipun menonton pertandingan sepak bola lagsung ke stadion. Pernah dulu waktu di Solo saya datang ke Stadion Sriwedari, tapi acaranya sudah berbeda, bukan menonton pertandingan sepak bola tapi nonton konser musik. Tapi, tetap saja seperti orang berolahraga saat saya nonton konser musik, ketika itu.

1 komentar:

  1. Semoga kompetisi Liga 1 ini konsisten ya. Ndak ada perubahan jadwal, mundur, atau berhenti di tengah jalan. Capek liat sepak bola Indonesia gini terus =(

    BalasHapus